January 8, 2021 By crushingcode.co 0

Sejarah di Balik Sajian Nasi Tumpeng Penuh Makna

Semenjak dahulu, tumpeng ialah salah satu sajian harus dikala syukuran ataupun upacara adat. Paling utama di pulau Jawa, tumpeng nyaris tidak sempat absen dalam kegiatan peresmian gedung, rumah baru, ulang tahun, kelahiran anak, sampai malam tirakatan pada hari Kemerdekaan.

Tumpeng sendiri umumnya dibuat dari nasi kuning yang dicetak membentuk kerucuk yang diletakkan di atas tampah bambu kemudian disajikan dengan bermacam- macam lauk tradisional semacam ayam goreng, tempe, ketahui, ikan teri, urap, serta masih banyak yang lain.

Tidak cuma bagaikan aksesoris dalam kegiatan syukuran ataupun upacara adat, nyatanya tumpeng pula sarat hendak arti dan doa kepada Yang Maha Kuasa. Bagi ahli kuliner, Arie Parikesit, tumpeng nyatanya telah terdapat semenjak dahulu, apalagi saat sebelum masuknya ajaran agama di Nusantara.

” Telah lumayan lama( terdapatnya tumpeng), saat sebelum masuknya agama- agama ke Nusantara bagaikan bagian dari perwujudan rasa syukur kepada kekuatan besar yang satu itu mereka sembah,” ucap Arie Parikesit dikala dihubungi kumparanFOOD Senin( 10/ 9) Pesan Nasi Tumpeng .

Dalam bahasa Jawa, tumpeng ialah suatu akronim dari kata, yen metu kudu sing mempeng yang maksudnya jika keluar wajib yang serius. Akronim tersebut bermakna kalau tiap pekerjaan wajib dicoba dengan sungguh- sungguh serta serius sehingga hasil yang diperoleh juga hendak optimal.

Tidak hanya itu, wujud kerucut pada nasi tumpeng ialah representasi dari keadaan geografis Indonesia yang mempunyai banyak gunung serta perbukitan. Pada era dulu, gunung dikira bagaikan tempat suci bersemayamnya para Dewa serta arwah para leluhur.

Sajian tumpeng beserta aneka lauk umumnya digunakan bagaikan persembahan ataupun sesaji buat Dewa ataupun arwah leluhur. Tetapi, lelet laun makna tumpeng yang menguncup mulai beralih bagaikan arti dari harapan supaya hidup senantiasa sejahtera serta penuh berkah.

” Wujudnya yang segi 3 melambangkan gunung, yang erat hubungannya dengan suatu yg bertabiat spiritual. Wujud segitiga pula ialah ikatan antara manusia, alam, serta Si Pencipta,” tambah Arie Parikesit.

Apabila dilihat lebih seksama, dalam satu sajian tumpeng, tentu senantiasa dihidangkan dengan 7 tipe lauk yang berbeda. Nyatanya, jumlah lauk yang diletakkan di sekitar tumpeng tersebut pula mempunyai makna tertentu, lho.

Angka 7 dalam bahasa Jawa diucap dengan sebutan pitu, ataupun pitulungan yang berarti merupakan pertolongan. Dalam penjelasannya, Arie menarangkan kalau 7 tipe lauk yang dihidangkan bersama tumpeng ialah simbol doa serta meminta pertolongan kepada Si Pencipta supaya diberi kelancaran dalam melakukan seluruh suatu.

Jenis- jenis lauk dalam tumpeng juga mempunyai makna serta harapan yang berbeda- beda. Salah satunya merupakan ayam ingkung, ialah sajian dari ayam jantan utuh yang dimasak dengan bumbu opor yang kaya rasa.

Baca Juga : Panduan Dan Metode Membuat Catatan Isi Otomatis di Microsoft Word 2013

Warga Jawa mengartikan kata ingkung bagaikan belenggu yang mengikat, sehingga ayam ingkung dimaknai bagaikan perilaku pasrah atas kekuasaan Tuhan. Tidak hanya itu, pemilihan ayam jantan ialah doa supaya bebas dari perilaku angkuh, congkak, pemarah, serta tidak mencermati perkataan orang lain.

Pada era dulu, seluruh suatu wajib dicoba dengan mencermati peraturan serta norma yang berlaku di warga. Tidak terkecuali, dikala hendak menyantap sajian tumpeng usai aktivitas upacara adat tradisional.

Umumnya, dikala hendak menyajikan tumpeng, bagian puncak hendak dipotong terlebih dulu buat diberikan kepada orang yang sangat dihormati ataupun orang yang tengah melakukan hajat besar. Sementara itu, metode yang benar dikala menyantap tumpeng merupakan mengeruk nasinya dari dasar sampai ke atas. Perihal ini mempunyai makna kalau tiap makhluk hidup hendak kembali ke Si Pencipta yang disimbolkan dengan puncak paling tinggi nasi tumpeng.